Makassar - Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar, Rudy Prasetyo, beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja ke kantor International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Menara Bosowa, Makassar untuk membahas koordinasi terkait penanganan pengungsi di Kota Makassar. Jumat (21/3/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Rudy Prasetyo menyampaikan beberapa poin penting terkait penanganan pengungsi kepada pihak IOM dan UNHCR. Pertama, Rudy berharap tidak ada penambahan pengungsi baru di Makassar. Hal ini dikarenakan situasi dan kondisi pengungsi yang bermukim dan berbaur dengan masyarakat setempat seringkali memicu konflik. Selain itu, penambahan pengungsi juga dapat menambah beban Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.
Kedua, Rudy menekankan pentingnya koordinasi satu pintu dalam menangani permasalahan pengungsi. Ia meminta agar segala bentuk koordinasi dan permasalahan disampaikan melalui surat, email, atau langsung menghubungi Kepala Rudenim Makassar. Ketiga, Rudy meminta data pemilik Community Housing (CH) dan berencana melakukan kunjungan kerja untuk berdiskusi langsung terkait data pengungsi dan permasalahan yang timbul di CH. Terakhir, Rudy meminta data dan tempat tinggal pengungsi mandiri yang saat ini dikelola oleh UNHCR di Makassar.

Menanggapi hal tersebut, pihak IOM menyampaikan bahwa mereka mengalami keterbatasan jumlah personel di Makassar, namun tetap menangani ratusan pengungsi. Mereka berharap kehadiran Kepala Rudenim Makassar dapat memberikan perubahan dan kontribusi positif terhadap penanganan pengungsi. IOM juga menjelaskan bahwa penambahan pengungsi baru hanya terjadi jika ada anak yang lahir dari perkawinan antar pengungsi. Mereka juga menjelaskan pembagian tugas sejak 18 Maret 2018, yaitu menangani kelompok pengungsi yang sudah terdata sebelumnya dan kelompok Rohingya. IOM membantu pengungsi atas permintaan Pemerintah Pusat dan fokus pada wilayah Sumatera, sebagian Jawa, dan Sulawesi. Mereka juga menyampaikan bahwa volume penerimaan pengungsi oleh negara ketiga saat ini menurun, sehingga pengungsi harus tinggal lebih lama di Indonesia, khususnya di Makassar.
Sementara itu, pihak UNHCR juga menyampaikan bahwa mereka mengalami keterbatasan jumlah personel di Makassar untuk memonitor pengungsi di wilayah timur Indonesia. Mereka juga menyampaikan bahwa pengurangan anggaran dari Amerika Serikat berdampak pada operasional UNHCR. Data UNHCR menunjukkan bahwa ada 90 pengungsi mandiri yang terdata di Makassar. Mereka juga mencatat penurunan signifikan jumlah pengungsi dan memprediksi penurunan resettlement di masa depan akibat kondisi politik Amerika Serikat, yang dapat berdampak pada psikologi pengungsi.
Kunjungan kerja ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan sinergi antara Rudenim Makassar, IOM, dan UNHCR dalam menangani pengungsi di Kota Makassar. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan permasalahan pengungsi dapat ditangani secara efektif dan efisien, serta meminimalisir dampak negatif bagi masyarakat setempat.
